Book Review | Indonesia

Megamendung Kembar by Retni SB

November 23, 2019

 

Judul : Megamendung Kembar

Author : Retni SB

Terbit : 11 Juli 2016

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Halaman : 360  halaman

Edisi Bahasa : Bahasa Indonesia

ISBN13 : 9786020332307

 

BLURB

Megamendung warna merah yang tersimpan di lemari itu adalah hasil dialog antara jiwa dan jemari Sinur dengan canting, malam, kain primisima, bara tungku, dan akar mengkudu. Memut kisah rahasia tentang cinta terlarang, luka, perjuangan, sekaligus kepasrahan. Niat Sinur, rahasia lebih dari setengah abad itu akan dibawanya sampai mati.

 

Namun, Awie bukan cucu yang rela membiarkan kisah masa lalu yang tak tuntas itu menjadi rahasia selamanya. Apalagi ketika dia tahu ada batik serupa yang diperlakukan bagai benda keramat di tempat lain…

 

Yang membuat Awie bimbang, apakah mengungkap kisah Megamendung kembar itu akan memulihkan sebuah hubungan, atau justru merusak harmoni? 

 

My rating : 🌟🌟🌟🌟🌟


Dibagi menjadi tiga bagian utama, dengan dua sudut pandang; dua kisah, dua wanita, dua generasi yang berbeda namun sama-sama memiliki kecintaan terhadap batik. Penulis menggunakan alur maju-mundur yang membawa pembaca ke masa lalu, dimana kunci misteri buku ini terletak.

Diawali dengan kisah Awie, seorang art director yang kemampuannya tidak diragukan lagi hingga ia sering dijejali dengan berbagai proyek, dan tak urung harus membuatnya lembur. Segala kesibukkan itu mulai membuat Awie gerah, belum lagi rumor-rumor yang tak menyenangkan tentangnya, dan … ia rindu kepada Embah yang sudah lama tak ditengok. Akhirnya sang art director  memutuskan untuk mengambil cuti dan kembali ke Kalitengah dimana Embah atau neneknya tinggal.

“Sesuatu yang membuat penasaran tentang Embah, membuatnya  bertekad untuk mencari tahu. Pulangnya kali ini bukan sekadar pulang. Bukan hanya menuntaskan kangen. Bukan hanya melarikan diri dari kemampatan pekerjaan. Tapi juga menyingkap sebuah kisah yang belum pernah diceritakan…”

 

Awie yang merupakan cucu bontot ini menyimpan rasa kagum sekaligus penasaran akan kecintaan sang Embah pada batik. Meski begitu menyukai batik, bahkan berhasil membesarkan anak-anaknya dari hasil kerajinan tersebut, tak urung Awie sering melihat kesedihan menyelinap keluar dari diri sang Embah saat membatik. Apalagi saat suatu kali ia bersama sang Embah tak sengaja menemukan sehelai kain batik lawas dengan motif megamendung yang tak biasa. Megamendung bergradasi sembilan. Sontak ekspresi Embah berubah drastis, beliau menjadi kesal yang membuat Awie makin penasaran.

Kepulangan Awie tidak hanya mempertemukannya dengan sang nenek, namun juga seorang lelaki, teman masa kecil yang selalu menjadi korban keisengan Awie. Iswandar atau biasa dipanggil Is. Anak laki-laki yang cengeng di mata Awie kini telah berubah menjadi pria gagah yang membuatnya pangling. Pertemuan itu tak berhenti disana, Is mulai sering mendatangi Awie hampir setiap hari dengan berbagai alasan termasuk menjenguk Embah. Is pun memiliki ketertarikan pada Batik, bahkan berencana untuk membuka showroom batik khusus untuk pengrajin di desa mereka.

Selain Is, ada juga Wigie. Pemilik showroom batik yang tak sengaja dikenal Awie ketika berjalan-jalan di Trusmi. Di showroom milik Wigie ini Awie menemukan satu lagi Megamendung bergradasi sembilan, sama persis seperti milik Embahnya. Bedanya batik megamendung ini di pajang sedemikian rupa selayaknya barang berharga, dan sama sekali tidak untuk dijual.

“Awie mundur selangkah. Menelengkan kepalanya. Megamendung kembar, di tempatnya masing-masing, diperlakukan dengan cara berbeda. Yang satu disembunyikan, yang satu dipertontonkan. Mengapa? Duhai, betapa rasanya penasaran menggedor-gedor jantungnya. Membuatnya ingin menelisik dan menyelinap memasuki lorong-lorong masa lalu….”

 

Memasuki bagian kedua, cerita pun berpindah ke masa lalu. Tahun 1948. Mengambil latar tempat desa Trusmi, berada di sebelah barat daya Cirebon. Sinur, yang adalah nenek Awie, saat itu masih bekerja sebagai buruh pengrajin batik di Pabrik Batik Rahayu. Disana kisah cinta terlarang Sinur dimulai. Tanpa disangka salah satu menantu pemilik Pabrik, Den Musa, mulai mendekatinya. Satu-dua kali mengajak Nur mengobrol di gedung tempat para wanita bisa membatik. Hal itu kerap membuat Sinur takut. Ia takut jika ada yang memergoki ia dan tuannya itu berdua, apalagi Den Musa sudah berkeluarga. Tapi disisi lain ada rasa berbunga-bunga yang menyisip dalam hatinya. Ia merasa senang karena diantara pembatik lain ialah yang  diperhatikan oleh Den Musa. Meski demikian Sinur tidak besar kepala, ia tetap bekerja sebaik mungkin, dan berusaha menjaga jarak. 

Penulis mengangkat bagaimana pada masa itu, hubungan antara pekerja atau buruh dengan majikan itu dianggap tidak pantas. Ada perbedaan strata sosial yang begitu kental. Berbeda dengan sekarang yang bisa saja seorang assisten rumah tangga membina hubungan dengan tuannya, bahkan walaupun majikannya itu sudah berkeluarga. Perbedaan ini membuat saya merasa kesal pada Den Musa karena ia kerap mendekati Sinur, padahal dia tahu posisinya itu dapat menimbulkan masalah. Dan lagi rasa iba karena Nur tidak bisa banyak membela diri saat disalahkan.

Dalam bagian kedua ini bukan karena hanya kisah romansa antara Sinur, Den Musa serta Lanang saja yang membuat cerita menjadi menarik, namun penulis juga menyelipkan kisah bagaimana Batik pada zaman tersebut sulit sekali untuk bertahan. Selain karena pembeli yang semakin berkurang disebabkan oleh isu-isu komunisme dan pendudukan Belanda untuk kedua kalinya membuat kegiatan produksi batik sulit.

Bagian ketiga merupakan penyelesaian masalah yang muncul dalam novel ini. Kembali ke masa sekarang, di mana Awie bisa bertemu dengan pria yang pernah membuat hati Embahnya kembang kempis, bahkan setelah bertahun-tahun lamanya waktu berlalu. Awie pun berusaha untuk mempertemukan kedua sosok ini dengan batik megamendung kembar ‘keramat’ mereka. Berharap hal itu bisa menyelesaikan ataupun mengungkapkan apa yang mereka pendam selama ini, tak ada yang memberi tahu Awie tapi sang cucu sendiri punya firasat untuk berbuat demikian.

Dan bukan hanya kisah Embah Nur saja yang diselesaikan di bagian terakhir ini. Namun juga kisah romansa antara Awie, Is dan Wigie. Layaknya sang Embah, Awie pun tidak mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan cinta yang ia inginkan. Tapi pada akhirnya Awie harus tegas dengan perasaannya sendiri.

Novel ini benar-benar berkesan dengan semua kisah, tempat dan karakter-karakter yang ada di dalamnya. Aku suka gaya penulisan yang mengalir dan hubungan antar karakter serta percakapan-percakapan yang tidak terasa klise, serta penyelesaian cerita yang baik. Karenanya rating penuh 5 bintang aku berikan untuk ‘Megamendung Kembar’. Sangat direkomendasikan buat pecinta cerita romansa non-picisan, you’re gonna love this one!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *