Book Review | Indonesia

Review Buku : Selected Fairy Tales

April 16, 2018

SelectedFairyTales

 

Judul : Selected Fairy Tales

Penulis : Hans Christian Andersen

Penerbit : HarpenCollins Publisher

Tahun terbit : 2014, Cetakan ke 4

Bahasa : Bahasa Inggris

Tebal Buku : 302 halaman

ISBN : 978-0-00-755815-5

 

 

 

“But must we not all here on earth give up our best parts to others, and offer as much as lies in our power? It is true I have only given roses. But you—you who are so richly endowed—what have you given to the world? What will you give it?” –The Snail and the Rose-tree, p163.

Salah satu kutipan favorit saya dari kumpulan dongeng Hans Christian Andersen terbitan HarperCollins. Membaca nama Hans Christian Andersen membuat bel kecil dalam kepala ini berdering, ah! Rasanya nama ini tak asing. Selected Fairy Tales sebagai judul dengan cover duyung kecil langsung mengingatkan saya pada dongeng The little mermaid. Jadilah saya membeli buku kecil setebal 302 halaman ini.

Dongeng seperti The Empire’s New Suit yang menceritakan seorang raja yang sangat senang mengoleksi baju—dan menghabiskan sebagian besar uangnya untuk baju—mendapat tawaran oleh sekelompok orang yang adalah penipu untuk membuatkannya baju yang sangat unik. Baju yang hanya bisa dilihat orang-orang pintar. The Little Match Seller, seorang gadis kecil penjual korek api yang malang. Menghabiskan malam terakhirnya di tahun yang lama kedinginan di jalan, ia menggunakan korek api yang dijualnya demi mendapatkan kehangatan dan kebahagian yang tak pernah ia jumpai sebelumnya, walaupun semuanya hanyalah sementara. Dan dongeng yang rasanya sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang, The Ugly Duckling. Karya yang merupakan masterpiece dari seorang H.C Andersen. Sang itik yang lahir buruk rupa di mata keluarganya, tidak menemukan tempat yang tepat baginya dan selalu di cemooh kemana pun dia pergi.

Bukan hanya bercerita H.C Andersen pun menyisipkan pesan-pesan dalam setiap dongengnya, The Snail and The Rose-tree yang menceritakan obrolan seekor siput yang tidak peduli dengan dunia dan pohon mawar yang setiap tahun bersemi karena kebahagiaan yang ia rasakan. Dongeng yang berisikan pesan bahwa setiap orang memilik kemampuan berbeda-beda yang telah di anugerahkan oleh pencipta, sudah sepatutnya kita mempergunakan itu selama kita hidup untuk saling melengkapi.

Ada pun The Travelling Companion, mengisahkan tentang perjalanan seorang pria yang di tinggal sebatang kara oleh orang tuanya, sikap dan pembawaannya yang begitu baik dan rendah hati membuat ia mendapatkan teman seperjalanan yang luar biasa. Temannya itu lalu membantunya menemukan kebahagiaan yang ia cari, sebagai balasan atas kebaikan yang pernah ia lakukan. Sekecil apa pun hal baik yang kita tabur jika kita melakukan dengan sepenuh hati maka pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Dalam dongeng yang lain H.C Andersen tak lupa menyisipkan dongeng dengan romansa, baik yang berakhir bahagia maupun yang harus berakhir tragis. Seperti dalam The Little Mermaid, The Elder-Tree Mother dan The Brave Tin Soldier.

Buku ini cocok untuk di baca  dan dinikmati semua umur, berisi 12 cerita menarik pilihan milik H.C Andersen—bahkan beberapa diantaranya sudah pernah dijadikan animasi— anda bisa memilih cerita yang menarik dan ringan untuk anak-anak, bagi remaja dan orang dewasa cerita dalam buku ini bukan hanya sekedar dongeng—imajinasi semata—namun juga sarat makna dan pesan moral, dan tidak ada salahnya bernostalgia dengan dongeng yang dulu pernah menemani kita beranjak dewasa.

 

 

 

Tentang Penulis:

Lahir di Odense, Denmark, 2 April 1805. Merupakan anak tunggal dari seorang pembuat sepatu dan ibunya bekerja sebagai tukang cuci. Saat ayahnya meninggal di umurnya yang ke sebelas tahun ia terpaksa berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Pada masa remajanya ia mencoba berbagai pekerjaan sebagai penari balet, penyanyi bahkan aktor panggung, namun semua itu tidak membuahkan hasil yang baik. Di sela-sela kesibukannya itu ia tetap mengasah kemampuan membaca dan menulisnya. Hingga salah seorang produser melihat bakat menulisnya dan mengirimnya ke sekolah bahasa untuk mempelajari bahasa dengan lebih baik. Disana ia kemudian menjalin hubungan baik dengan salah satu dosennya B.S Ingemann.

Pada Februari 1835 Andersen menulis kepada Ingemann: ‘Aku telah memulai dongeng-dongeng yang luar biasa bagi anak-anak dan aku percaya aku telah berhasil. Aku telah diceritakan dongeng yang selalu kusenangi saat kecil, dan aku tidak percaya itu dikenal, aku telah menulisnya tepat seperti aku ingin menceritakannya kepada seorang anak.’

Pada tahun 1843, ketika ia menghasilkan The Ugly Duckling, sebagai salah satu masterpiece-nya , dongeng-dongennya adalah, pada eranya mendapat sebutan penjualan terpanas.

Sang penulis wafat pada tahun 1875 di Rolighed, rumah salah satu kerabat dekatnya. Salah satu surat kabar besar London menyatakan bahwa Handersen layak untuk disandingkan bersama dengan Shakespeare and Homer sebagai penulis besar. Dan sejak 1967, pada tanggal 2 April, hari kelahirannya telah di tetapkan sebagai International Children’s Book Day. Meskipun Handersen sendiri terus mengatakan hingga akhir hayatnya bahwa dongeng yang ia tulis adalah untuk semua kalangan bukan hanya anak-anak saja. (Sumber: Selected Fairy Tales, Life & Times, p. v-ix)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *